Home ›› Koridor Hukum ›› Waktu Tunggu Wanita yang Suaminya Meninggal

Waktu Tunggu Wanita yang Suaminya Meninggal

Dibaca hari ini 5, Keseluruhan 356 kali

Suami saya baru saja meninggal karena kecelakaan. Kami belum dikaruniai anak. Sejak suami meninggal, mantan pacar saya di SMA mulai mendekati. Seminggu lalu dia mengajak saya menikah. Apakah saya boleh menikah lagi padahal kematian suami baru sembilan bulan?

Tuti – Bekasi

Saya turut berduka cita atas kecelakaan yang dialami suami Ibu. Saya akan menjawab pertanyaan Ibu, semoga bermanfaat dan Ibu bisa mengambil keputusan yang bijak. Pasal 38 UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan) menjelaskan, perkawinan dapat putus karena:
a. Kematian
b. Perceraian.
c. Atas keputusan Pengadilan.
Dalam hal putusnya perkawinan baik itu karena kematian, perceraian, maupun atas keputusan Pengadilan, bagi seorang wanita berlaku jangka waktu tunggu. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 11 UU Perkawinan.
1. Bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu.
2. Tenggang waktu jangka waktu tunggu tersebut ayat (1) akan diatur dalam Peraturan Pemerintah lebih lanjut.
Mengenai tenggang waktu jangka waktu tersebut diatur dalam Pasal 39 PP Republik Indonesia No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan (PP 9/75).
1. Waktu tunggu bagi seorang janda sebagai dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang ditentukan sebagai berikut:
a. Apabila perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari.
b. Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih datang bulan ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari dan bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari.
c. Apabila perkawinan putus sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.
2. Tidak ada waktu tunggu bagi janda yang putus perkawinan bila belum pernah terjadi hubungan intim.
3. Bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak jatuhnya putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, sedangkan bagi perkawinan yang putus karena kematian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak kematian suami.
Terkait pertanyaan Ibu, kematian suami selama sembilan bulan yang bila dihitung dalam hari sudah 270 hari. Putusnya perkawinan karena kematian waktu tunggunya adalah 130 (seratus tiga puluh) hari dihitung sejak kematian suami. Jadi, menurut peraturan yang berlaku, Ibu diperbolehkan untuk menikah atau memiliki suami lagi. Demikian jawaban dari kami. Terima kasih.
Diasuh Hotma P.D. Sitompoel, S.H., M.Hum dan LBH Mawar Saron/foto: net

About tabloid nyata

tabloid nyata
Tabloid Nyata Adalah tabloid mingguan yang menyajikan beragam berita hiburan untuk keluarga.Dikemas dengan bahasa yang mampu menggugah perasaan