Kurang Keras, Bisakah Diobati?

Mr. P yang kurang keras saat ereksi selalu menjadi momok bagi kaum pria. Bisakah hal ini diobati?

Pasti menakutkan bila kaum pria mengalami hal ini. Seorang pria berusia 40 tahun mengalami hal ini dan bertanya melalui email pada saya. Saat ereksi Mr. P-nya kurang keras. Sperma pun juga susah keluar. Lantas, apakah ngefek kondisi ini pada kepuasan diperoleh ketika berhubungan intim? Bisakah hal ini diobati?
Harus diingat bahwa penis yang kurang keras saat ereksi menandakan adanya gangguan pada sistem reproduksi. Bisa karena aliran darah yang kurang deras. Bisa pula hal ini disebabkan kurang baiknya sirkulasi darah di sekitar organ kelamin.
Hal-hal ini biasanya merupakan akibat dari penyakit tertentu, misalnya kencing manis. Faktor usia yang semakin tua sehingga terjadi penurunan kualitas struktur jaringan di sistem reproduksi juga kerap menjadi penyebabnya. Namun, jangan dilupakan, rangsangan seks yang tak memadai pun bisa menyebabkan penis tak bisa keras saat ereksi. Apalagi, ada hal-hal yang mengganggu pikiran saat itu.
Tentang kepuasan saat berhubungan intim, bisa saja akan terpengaruh. Tetapi, kepuasan saat berhubungan pun juga ditentukan banyak hal dan dengan berbagai cara. Jadi, pandai-pandailah menyiasati keadaan ini.
Mengenai susahnya sperma keluar, umumnya berhubungan dengan hal-hal di atas. Tapi perlu diperjelas, keluarnya sperma (saat ejakulasi, bersamaan dengan cairan kelamin lainnya) identik dengan kepuasan seks (orgasme) seorang laki-laki.
Sayang sekali, pria ini tidak menjelaskan apakah pada waktu-waktu sebelumnya, yakni masa pubertas hingga sebelum usia 40 tahun ini, ereksi dan ejakulasinya lancar-lancar saja atau tidak. Bila lancar, berarti faktor usia dan penyakit saat ini yang mungkin ada, merupakan kemungkinan penyebab gangguan tersebut.
Bila sebelumnya sudah tak lancar, berarti ada kelainan organ sistem reproduksi, baik struktur maupun fungsinya. Untuk menangani kondisi ini, mendatangi dan memeriksakan diri pada dokter, terutama dokter ahli sistem reproduksi laki-laki (androlog) juga harus dilakukan.
Perawatan dan pengobatan yang tepat akan diberikan setelah dokter memeriksa dengan teliti. Sementara itu, jangan juga sembarangan mengonsumsi obat-obatan untuk ‘menguatkan’ Mr. P. *dr. Naek L. Tobing, SpKJ. Sexology / foto : net